 |
| Jumat, 23 Januari 2009 |
| ceRRpeN |
CERPEN... JUDUL : MY BROTHER’S , MY HERO !!
Akhir-akhir ini cuaca sangat tidak menentu , siapa yang menduga hari ini hujan akan turun sangat lebat. Padahal tadi pagi cuaca sangat cerah , sama sekali tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan. Terlihat seorang gadis berjalan menuju kedepan pagar sebuah rumah sederhana, beberapa saat kemudian seorang wanita setengah baya dengan langkah terburu-buru membuka pintu pagar dengan membawa sebuah payung. Gadis itu memang kehujanan , bahkan seragam SMA yang ia pakaipun basah . tanpa peduli dengan payung yang ditawarkan wanita setengah baya itu , Anggi terus berjalan menuju ke dalam rumahnya. Saat ini anggi sangat kesal , ia tidak peduli akan basah kuyup ataupun sakit , hanya satu yang ingin ia lakukan , yaitu memarahi Rio, adik laki-lakinya. Setelah masuk ke rumah segera ia menuju kamar Rio , seperti biasa terdengar suara petikan gitar dari dalam kamar Rio , tapi kali ini Anggi tidak peduli , diketoknya kuat-kuat pintu kamar Rio. “ Rio “ panggil Anggi dari luar kamar , suaranya terdengar sangat garang. Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka , batang hidung Rio sudah terlihat di depan pintu. “ apa? “ kata Rio dengan ekspresi datar, seolah-olah tidak peduli akan Anggi yang sedang marah. “Rio , aku mau ngomong sama kamu !! “ “ Kalau mau ngomong , Ya ngomong saja, Tidak ada yang melarang !” “ kamu itu.... “ kata Anggi kesal , ia berhenti bicara , emosinya kini benar-benar meledak. “ apa ??” kata Rio menantang. “ Bisa tidak kamu itu tidak buat masalah ?? sebenarnya apa mau kamu ??” “ nggi, kalu kamu mau bilang itu , mending batalin. Aku lelah, aku mau tidur!!” kata Rio lagi-lagi dengan ekspresi datar dan sifatnya yang acuh. Rio mulai melangkah menuju tempat tidurnya , “ Lelah ? oh iya aku lupa kalau kamu tadi habis berkelahi dengan teman sekelasku , sampai-sampai kamu lelaaaah..... sekali... “kata Anggi masih dengan kesal. Mendengar ucapan Anggi , Rio menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan dan menatap Anggi dengan tatapan tajamnya. “ Rio , sebenarnya apa yang kamu cari dari berkelahi ? apa ada sesuatu yang membuat kamu begitu senang membuat masalah ??” kata Anggi, emosinya mulai meledak-ledak. “ Sudahlah... yang berkelahi itu aku , bukan kamu. Dan yang luka itu aku, bukan kamu ! “ kata Rio masih dengan sorot mata yang tajam menatap Anggi. “ Iya, yang akan luka atau sakit itu kamu !! tapi yang akan kena batunya adalah aku ! aku yang akan dipanggil oleh kepala sekolah !!!! Rio , kamu jadi siswa Sma itu baru 3 bulan , dan aku sudah bolak-balik masuk ruang kepsek hampir 10 kali , hanya karena masalah kamu. Aku sudah kelas 3 Sma , selama di Sma aku tidak pernah buat masalah sedangkan kamu ??? aku bisa kena masalah karena kamu ! Kamu tidak pernah mikirkan soal itu kan??? yang kamu pikirin itu Cuma diri kamu .”jelas Anggi panjang lebar. “ jadi kamu mau apa? Mau ucapan Terima kasih dari aku? Maaf aku tidak pernah maksa kamu untuk peduli sama aku !” “ Aku tidak pernah minta ucapan Terima kasih dari kamu , Yang aku ingin setidaknya kamu itu mengerti aku , aku malu..... semua anak disekolah kita ngomongin kamu, ditambah lagi kamu tadi berkelahi dengan anak sekelasku,, kakak kelasmu !! aku tidak tahu apa yang akan terjadi sama aku besok , mungkin besok semua anak sekelasku akan menjauhiku dan memandangku seperti orang yang jahat!! Aku dapat hukuman atas apa yang aku tidak perbuat!!! “ “ Aku juga punya otak , nggi! Aku tahu siapa yang pantas dapat pukulan dariku , dan siapa yang harus aku hormati . Denis, teman sekelasmu yang sok jago juga sok berkuasa itu memang pantas dapat pukulan dariku !!” “ oh ya..? kamu selalu bilang begitu kalau kamu habis berkelahi kan , aku bosan !!! sekarang terserah kamu mau buat apa! “ kata Anggi mengakhiri pertengkaran mereka. Dengan langkah tergesa-gesa Anggi berjalan ke kamarnya yang berada tidak jauh dari kamar Rio. Sesampainya di kamarnya,segera Anggi mengurung diri di kamar mandi, ia benar-benar tidak dapat menahan tangis yang dari tadi ia coba untuk menahannya. 2 tahun setelah kematian ibu mereka , ayah mereka memutuskan untuk menikah lagi, Anggi dan kedua adiknya menolak hal itu, mereka pun memutuskan untuk tinggal bertiga ditemani nek imah, pembantu kepercayaan almarhum ibu mereka di rumah sederhana peninggalan ibu mereka , memang setiap bulan ayahnya selalu mengirimi mereka uang yang cukup. Anggi memang sangat kerepotan akan hal itu, tetapi ia lebih memilih hidup mandiri , satu hal yang sangat ia cemaskan apabila tetap tinggal bersama ayahnya, yaitu keselamatan Sesil , adik bungsunya . Sesil masih berumur 5 tahun dan kondisi fisiknya lemah, apalagi ia tuna netra . Tante Risa yang menjadi ibu tiri mereka itu masih sangat muda, dia baru berumur 25 tahun, sejak awal Anggi merasa tidak senang dengan Tante Risa, ia takut Adik bungsunya akan menjadi korban kekejaman ibu Tiri seperti di tv, kalau Rio, tidak perlu di khawatirkan, Anggi yakin ia dapat menjaga dirinya, sedangkan Sesil dan Anggi sendiri , apa yang akan terjadi nanti ?? Tetapi karena sikap Rio Yang semakin menjadi-jadi , Anggi menjadi tidak tahan , dia tidak sanggup mengurus kedua adiknya itu, Anggi merasa gagal, Sebagai kakak sulung ia terlalu lemah dan cengeng , ia perlu seorang pembimbing.
“ andai ibu masih hidup , semua akan baik-baik saja seperti dulu , keluargaku akan bahagia seperti dulu, tidak berantakan seperti sekarang , ayah tidak akan menikah lagi, dan tidak akan terus-terusan menyalahkan Sesil sebagai penyebab kematian Ibu, walaupun Rio dan aku selalu berdebat akan selalu ada ibu sebagai penyatu kami dan Rio tidak akan menjadi seperti ini, ibu.... “ bisik Anggi ditengah tangisnya. Anggi memang bukan gadis yang lemah bagi teman-temannya , dia adalah Gadis cantik , pintar dan selalu bersemangat , walaupun dia mempunyai sifat Tomboy, siapa sangka ternyata ia mempunyai kehidupan seperti ini. Setelah merasa cukup melampiaskan rasa sedihnya anggi pun menghapus air matanya, lalu mencuci mukanya berulang-ulang berusaha menghilangkan bekas tangis dan matanya yang merah, hingga akhirnya wajah putihnya menjadi pucat. Setelah itu barulah ia mengganti pakaiannya yang basah karena hujan lalu keluar dari kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi, sesil sudah duduk manis di atas tempat tidur , Anggi benar-benar tidak tahu kalau Sesil tadi tidur di tempat tidurnya , Anggi sedikit takut kalau Sesil mendengat tangisnya di dalam kamar mandi. “ kakak....” panggil sesil dengan suara jernihnya. “ ada apa sesil ? “ tanya Anggi berusaha seolah-olah tidak terjadi apa-apa, walaupun dengan suara serak. “ kakak nangis ya?” “ tidak kok, kakak tadi Cuma ganti baju di kamar mandi sambil nyanyi kecil ! kamu malah nyangka kakak nangis, memangnya suara kakak sejelek itu ?” “ kak... jangan bohong. Sesil memang buta, tapi sesil punya perasaan , sesil tahu kakak lagi sedih” mendengar kata-kata adiknya itu lagi-lagi Anggi terdiam , kata-kata yang diucapkan adiknya sangat mirip dengan kata-kata yang sering dikatakan ibunya saat tau ia sedih. Sesil memang adalah hadiah terakhir dan terindah dari ibunya, ibu mereka dulu menyembunyikan penyakit kanker rahimnya, ia tidak mau keluarganya cemas, dan ia tidak ingin menggugurkan kandungannya, ia tidak mau membunuh anaknya secara tidak langsung hanya demi keselamatannya, dan dengan perjuangannya itu, lahirlah seorang bayi mungil yang cantik, setelah sempat memberi nama sang bayi dengan nama Sesil ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Terlepas dari kekurangan sesil yang tidak dapat melihat, sesil tumbuh menjadi anak yang cantik , wajahnya sangat mirip dengan almarhum ibu mereka, ia juga mempunyai suara yang jernih, walaupun sang ayah tidak pernah suka bahkan menyalahkannya atas kematian ibunya, Sesil tidak kekurangan kasih sayang, ada Anggi, Rio, dan Nek Imah yang selalu menyayanginya. “ Sesil....... kamu tidak usah pikirkan masalah itu, kakak dan kak Rio sebentar lagi juga akan baikan. Kamu sudah makan ?” tanya anggi sambil mengusap wajah lembut Sesil. “ Sudah tadi sama kak Rio.” “ sepertinya kamu mengantuk , ya sudah lanjutkan saja tidurnya, kakak mau makan dulu.” Kata Anggi, Sesil pu menurut, ia lalu berbaring dan diselimuti oleh Anggi.
# # #
“ Nek, mana Rio? “ “ Den Rio tadi pergi keluar setelah bertengkar dengan Non Anggi.” Jawab Nek imah yang sedang mencuci piring didapur. Anggi memang tadi mendengar suara motor Rio yang berisik itu setelah mereka bertengkar, akan tetapi ia tidak tahu kalau Rio akan pergi saat hujan lebat tadi. “ Sekarang sudah malam Nek, sudah hampir jam 8 malam, tidak biasanya Rio pulang selarut ini ? “ tanya Anggi sedikit khawatir. “ ia , non. Den Rio tidak biasanya seperti ini. Perasaan nenek dari tadi tidak enak . tadi Den Rio buru-buru pergi setelah menerima telepon .” “ oh ya? , Nenek tau dari siapa ? “ tidak Non.” Jawab Nek imah. Anggi dan Nek imah pun diam sejenak, Sesaat kemudian Nek imah dan Anggi segera kekamar Tempat sesil tidur, karena terdengar Sesil memanggil – manggil Rio. “ Non Sesil mengigau Non, badannya panas!!” kata Nek Imah dengan nada yang sangat panik. “ Astaga, ya sudah kalau begitu Anggi telepon Rio” kata Anggi tidak kalah panik dari Nek Imah. Hanya Rio yang dapat diandalkan, Karena hanya dia yang dapat mengendarai mobil dirumah itu. Akan tetapi setelah di telepon tidak ada jawaban. Anggi pun memutuskan untuk menelpon Ayahnya. Akan tetapi yang mengangkat tante Risa dan dia bilang Ayahnya sedang pergi keluarkota. Sekarang pupuslah semua harapan Anggi, Ia tidak bisa berbuat apa-apa, Sesil masih saja mengigau dengan memanggil Rio, walaupun sudah dikompres oleh Nek Imah semalaman, sedangkan Rio tidak ada kabar nya, membuat Anggi semakin tidak tenang. Malam begitu lama berganti menjadi pagi, Anggi menjadi sangat panik, ia berencana membawa Sesil ke rumah sakit ketika pagi tiba, akan tetapi panas tubuh Sesil semakin tinggi, Anggi terus-menerus membaca ayat-ayat suci , ia sangat khawatir dengan kondisi Sesil, tiba-tiba terdengar suara telepon berdering, Nek imah yang tadi tertidurpun terbangun dan bergegas menerima telepon, 5 menit kemudian Nek imah kembali kekamar dengan suara yang serak seperti ingin menangis , Nek imah membisikkan sesuatu ke telinga Anggi. Anggi benar –benar tekejut, air matanya berlinangan, Ia tidak tahu sebenarnya Apa yang terjadi, Ia tidak menyangka Hari itu akan menjadi sangat berat baginya, Sesil, adik bungsunya demam Tinggi, sedangkan Rio terbaring diruang ICU rumah sakit umum kota itu karena ditusuk seseorang yang sangat ia kenal, yaitu Bobby. Ketika pagi tiba, Dengan diantarkan Tere, teman kecilnya Rio, Anggi, dan Sesil yang sedang demam pun tiba dirumah sakit umum, Sesil yang demamnya semakin tinggi itu pun segera dibawa keruang VIP, satu-satunya ruangan yang tersedia dirumah sakit itu , beberapa saat kemudian Rio juga dipindahkan keruangan yang sama dengan sesil, Anggi tak henti-henti menangis.Ditemani oleh Tere, Anggi dengan Setia menunggu kedua Adiknya itu. “ Kak Anggi, sudahlah... jangan menangis terus, kakak bisa sakit! “ nasehat Tere. “ Gimana aku tidak sedih , Tere. Kedua adikku sekarang ada dirumah sakit , terbaring lemah , sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa! “ “ yang bisa kakak buat Cuma tegar, Rio selalu bilang kakak adalah kakak paling mandiri dan tegar, dia sangat bangga dengan sikap kakak “ kata tere, mata cewek itu mulai berkaca-kaca. “ kak... Rio sangat sayang dengan kakak! , dia melakukan semua ini untuk kakak!” kata Tere lirih. Mendengar perkataan tere, tangis Anggi terhenti. “ kamu tahu tentang semua ini, kamu tahu apa penyebab Rio ditusuk, kamu tahu semua?? Tolong Tere, ceritakan sama kakak! “ “ aku tidak tahu pasti, kak. Tapi yang aku tahu Rio berkelahi dengan Denis karena mendengar Denis akan menjadikan kakak sasaran taruhannya. Selain itu, karena Denis merupakan pencandu, dan dia tahu kakak adalah anak orang yang kaya dia akan memanfaatkan kakak. “ “ Astaga, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Rio, aku bukan anak kecil lagi, aku tahu yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. “ “ kakak tidak boleh menyalahkan Rio terus, dia melakukan semua ini untuk kakak, dia Cuma tidak ingin kakak sakit, kakak tidak tahu bagaimana sakitnya Rio kan, kakak tidak tahu bagaimana pengorbanan dia. Setelah ibu kakak meninggal, Rio sangat terpukul, dia brjanji akan selalu melindungi kakak dan Sesil, dia tidak mau menyusahkan kakak, kakak pikir uang yang kakak terima setiap bulan itu dari siapa ? itu semua dari Rio, dia setiap malam Balapan dan itulah hasil Jerih payahnya, kakak dan Sesil dan hidup normal. Dia sngaja mengirimkan uang atas nama Ayah kakak , supaya kakak tidak membenci ayah kakak yang slama ini tidak mau perduli lagi dengan kakak, dia tidak ingin hubungan kakak dangan ayah kakak berantakan, aku memang tidak berhak membuka semua rahasia Rio, tapi aku tidak mau kebaikan Rio malah kakak anggap suatu kejahatan!! “ kata Tere sedikit Emosi. Sebenarnya hubunga Tere dengan Anggi tidak terlalu baik , Anggi pernah menganggap Tere lah yang mempangaruhi Rio sampai ia menjadi sangat Nakal, Sampa-sampai Rio tidak diperbolehkan berteman lagi dengan teman kecilnya ini, akan tetapi semua kemarahan Tere telah ia buang, ia tidak ingin larut dalam Kebenciannya. Anggi mulai menangis lagi.. matanya benar-benar sembab. “aku mau keluar sebentar mencari udara segar !!” kata Anggi sambil terisak-isak. # # # # # sudah seharian, anggi menunggu kedua adiknya itu, sekarang sudah larut malam, Tere sudah tertidur di sofa Ruang itu, sedangkan Anggi masih tetap menangis di sebelah Rio. “ anggi...” panggil Rio. Anggi sangat terkejut, ia tidak tahu Rio sudah sadar, sebuah senyum bahagia terpancar diwajahnya. “ rio kamu sudah sadar?” “ Sudah.. Kak... maafin aku ya , aku suka buat kakak nangis !!” Anggi kembali tersenyum.. Rasanya sudah lama....... sekali Rio tidak memanggilnya dengan sebutan kakak. “ iya. , kamu juga maafin aku ya Rio, aku banyak salah sama kamu , aku egois... “ “ iya . “ jawab Rio singkat sambil tersenyum “ “ Kak...” panggilnya lagi. “ apa ?” “ kalau aku sudah tidak ada kamu harus jaga Sesil baik-baik ya, Jangan sampai dia terlantar. Dan perbaiki hubungan mu dengan Ayah, jelasin kalau aku lah penyebab kematian ibu, aku tidak mau Ayah selalu menyalahkan Sesil.!! Janji ya.” Kata Rio sambil tersenyum. “Rio... kamu itu ngomong apa? Seperti mau meninggal saja, kata dokter kalau kamu sudah Siuman berarti kamu itu sudah tidak apa-apa ! “ “ ya biarin , sekali-skali aku mau seperti di adegan film-film,tapi janji ya. He..he..“ katanya sambil cengengsan. Kondisi Rio sepertinya sangat sehat, dia benar-benar anak yang kuat. “ iya... kamu juga harus ngalindungin aku dan Sesil terus ya. “ “ insya allah, selama aku hidup aku akan jaga kalian . Ya sudah kakak belum tidur kan , wajah kakak lelah sekali. , tidur saja, aku juga mau tidur lagi, aku lelah... sekali “ kata Rio. Sebentar saja anggi sudah tertidur di bangku diantara tempat tidur Rio dan Sesil. Sementara itu Rio bertasbih dan membaca doa sebelum tidur , seperti kebiasaannya semenjak kecil. Tere yang dari tadi pura-pura tidur tak bisa menahan harunya, air matanya mengalir diujung kedua matanya. Ia tahu ini akan terjadi, segera ia berdiri meninggalkan sofa menuju kamar mandi ruang itu, setelah itu menghampiri Rio yang tertidur. Diperiksanya denyut nadi Rio, dan detak jantungnya, “ inalilahi wa inna ilaahi rojiun” kata tere dalam hati. benar dugaan Tere, Rio sudah meninggal kan mereka semua, Teman kecilnya itu meninggalkan mereka semua dengan semua kenangan indah, Rio meninggal dengan wajah yang sangat tenang , bibirnya seperti sedang tersenyum, ia memang orang yang baik. “ kak...” panggil tere. Anggi yang baru saja tertidur itu pun membuka matanya dengan sangat berat. “ kak, Rio sudah tidak ada.” “ maksud kamu? Dia lagi tidur Tere.” “ dia sudah meninggal kak.” Kata Tere. Wajahnya sangat tenang, ia sudah puas menangis, dan sekarang ia berusaha menepati janjinya kepada rio untuk tidak menangis. Tangis Anggi kembali meledak, ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi, dipeluknya adiknya untuk yang terakhir kalinya. “ kak.... Rio pesan, kalau dia sudah tidak ada, dia ingin menyumbangkan kornea Matanya untuk sesil, dan ini “ kata Tere, sambil menyerahkan kartu ATM milik Rio. “ disini sudah ada uang yang cukup, itu uang tabungan Rio.. dan uang hasil penjualan motornya. , Rio pesan ini harus diberikan kepada kakak.” Jelas Tere. “ jadi kamu sudah tahu semua ini, kenapa kamu tidak bilang ??” “ Rio melarang aku kak. Saat kakak pergi tadi siang dia sudah siuman, dan itu pesannya!” jelas Tere. # # # # # # Sudah seminggu Rio meninggal, BOBBY dan Denis yang menusuknya pun telah ditangkap polisi. Operasi kornea mata untuk Sesil pun telah berhasil , Kornea mata Rio cocok dengan Kornea mata Sesil, sesil sekarang sudah dapat melihat, kemarin ia sudah berziarah ke makam kakak laki-lakinya yang paling ia sayangi. Walaupun Rio sudah tidak ada, akan tetapi Anggi tetap mengenangnya, begitu juga sesil . dan satu hal lagi, Ayah Anggi sudah dapat menerima Sesil, bahkan menyuruh mereka kembali kerumah mewah mereka, tetapi Anggi dan Sesil tidak mau karena dirumah mereka yang sederhana itu sudah ada seseorang lagi yang membuat suasana menjadi lebih Ceria, yaitu Tere. Tere yang tomboy itu menjadi pengganti Rio, walaupun dia tidak sebaik dan sehebat Rio tetapi kemampuan Berkelahi dan sifatnya juga mirip dengan Rio, Tere sudah berjanji kepada Rio akan menjaga kedua saudara Rio, dan Tere akan menepati Janji itu. Dan kehidupan yang baru dan menyenangkan akan dimulai.... kehidupan memang tidak dapat ditebak, akan tetapi jangan pernah sesali apa yang sudah terjadi, kehilangan seseorang yang sangat berati bukan berarti kehilangan semangat dan kebahagiaan , akan tetapi itu adalah awal munculnya hal yang baru, hal yang merupakan kebahagiaan dan semangat baru.....
~the end~ KARYA : SRI LESTARI.Label: sRi LeZtAri |
posted by tar_ai @ 21.00  |
|
|
|
|
| |
|
|